Memahami Suspension Trauma pada Pekerjaan di Ketinggian


Banyak orang mengira kerja di ketinggian akan aman saat pekerja mengalami kejadian terjatuh akan selamat karena tertahan oleh full-body. Padahal, setelah jatuh dan tubuh menggantung tegak tanpa banyak bergerak, dapat muncul keadaan darurat yang dikenal sebagai suspension trauma atau orthostatic intolerance. Kondisi ini terjadi karena darah cenderung berkumpul di tungkai, aliran balik ke jantung menurun, lalu suplai darah dan oksigen ke otak serta organ vital ikut berkurang. Bila korban tidak segera dievakuasi, risiko pingsan hingga kondisi yang mengancam nyawa dapat meningkat.

Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat “tergantung”

Dalam posisi tegak, tubuh sangat bergantung pada “pompa otot” betis untuk membantu darah kembali ke jantung. Ketika seseorang tergantung dan tidak bisa menggerakkan kaki secara efektif, mekanisme ini melemah. Akibatnya, terjadi penumpukan darah di tungkai (venous pooling). Pada kondisi tertentu, tubuh juga dapat bereaksi dengan perubahan denyut jantung dan tekanan darah yang akhirnya menurunkan aliran darah ke otak sehingga memicu pingsan. Menurut OSHA menjelaskan bahwa pekerja yang tidak sadar atau tidak bergerak saat tergantung tidak akan otomatis jatuh ke posisi mendatar seperti orang pingsan saat berdiri, sehingga venous pooling (Penumpukan darah vena)  lebih mungkin terjadi dan dapat berakibat serius bila tidak segera ditolong.

Faktor yang mempercepat dan memperberat kondisi ini antara lain adanya cedera saat jatuh, syok, kondisi cuaca, kecocokan dan posisi harness, serta kondisi fisik korban.

Gejala yang perlu dikenali sejak dini saat mengalami suspension trauma

Gejala suspension trauma sering muncul sebagai tanda-tanda seperti orang menuju syok seperti pusing atau rasa ingin pingsan, sesak, berkeringat dingin, pucat, mual, penurunan respons, disertai keluhan berdebar atau perubahan denyut. 

Mengapa waktu evakuasi menjadi sangat penting?

Dalam praktik keselamatan kerja, korban yang tergantung harus dipandang sebagai keadaan gawat darurat yang memerlukan rescue cepat. Panduan HSE menekankan bahwa penyelamatan, terutama pada korban tidak sadar, perlu dimulai cepat (contoh sekitar 15 menit) untuk menurunkan risiko suspension trauma dan bahwa sistem kerja tidak boleh mengandalkan layanan darurat eksternal bila hal itu tidak sudah disepakati dalam perencanaan. 

Pertolongan dan penanganan di lapangan saat terjadi gejala suspension trauma

Begitu terjadi jatuh dan korban tergantung, langkah paling aman adalah mengaktifkan prosedur tanggap darurat lokasi dan menjalankan rencana rescue. Ini sejalan dengan pendekatan OSHA yang menekankan korban yang tergantung harus diselamatkan secepat mungkin menggunakan prosedur yang aman.

Selama menunggu proses evakuasi, korban yang masih sadar sebaiknya dibimbing untuk menggerakkan tungkai secara aktif agar “pompa otot” tetap bekerja. Selain itu, penggunaan pijakan kaki/trauma relief strap dapat membantu korban berdiri pada loop, sehingga tekanan pada area paha berkurang dan sirkulasi membaik.

Setelah korban dilepaskan perlu perhatian khusus untuk posisi dan penanganan lanjutan seperti evakuasi dan ditempatkan dalam posisi berbaring sesegera mungkin bila sudah aman, serta mengingatkan bahwa anjuran “posisi duduk 30 menit” yang dulu pernah beredar tidak didukung bukti dan dapat berbahaya. Secara praktis, setelah korban aman di bawah, lakukan penilaian kondisi, pertolongan pertama sesuai kompetensi, pantau kesadaran dan napas, dan rujuk layanan medis terutama bila korban sempat tidak sadar, mengalami keluhan berat, atau tergantung cukup lama.

Pencegahan yang benar bukan hanya “pakai harness”

Pencegahan suspension trauma tidak bisa dipisahkan dari manajemen kerja di ketinggian secara menyeluruh, mulai dari perencanaan pekerjaan, pemilihan metode kerja paling aman, sampai kesiapan rescue.

Permenaker K3 Pekerjaan pada Ketinggian menegaskan bahwa pekerjaan pada ketinggian harus memenuhi persyaratan K3 yang mencakup perencanaan, prosedur kerja, teknik bekerja aman, APD serta perangkat pelindung jatuh dan angkur, dan aspek tenaga kerja. 

Lebih lanjut, diwajibkan pula rencana tanggap darurat tertulis yang setidaknya memuat daftar personel penolong di ketinggian, peralatan yang harus tersedia, fasilitas P3K dan sarana evakuasi, nomor kontak pihak terkait, serta denah dan jalur evakuasi menuju fasilitas kesehatan, disertai kewajiban memastikan kesiapsiagaan tim tanggap darurat saat pekerjaan berlangsung.

Regulasi yang terkait tentang Pencegahan Suspension Trauma

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 memuat kewajiban pembinaan kepada tenaga kerja, termasuk pencegahan kecelakaan dan pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. Ini menjadi landasan kuat bahwa pelatihan, prosedur, dan kesiapan P3K bukan pelengkap, melainkan kewajiban.

Integrasi ke SMK3 di perusahaan

Bila perusahaan menerapkan SMK3, PP Nomor 50 Tahun 2012 menekankan bahwa perencanaan K3 perlu mempertimbangkan identifikasi potensi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko. Pada aspek kesiapsiagaan, PP tersebut memuat kebutuhan identifikasi potensi keadaan darurat, pendokumentasian dan penyampaian prosedur, penyediaan sarana, pelatihan, penetapan petugas keadaan darurat, serta pengujian prosedur secara berkala.

Penutup

Suspension trauma mengajarkan satu hal penting  dalam kerja di ketinggian, “tertahan harness” bukan garis finish, melainkan awal fase darurat yang harus ditangani dengan rencana rescue yang matang. Perusahaan perlu memastikan prosedur kerja tertulis, rencana tanggap darurat, kompetensi tim, serta kelengkapan APD dan peralatan penolong benar-benar siap sebelum pekerjaan dimulai.