Kebakaran Apartemen Hong Kong: Tragedi 7 Gedung Terbakar di Wang Fuk Court

Kebakaran Apartemen Hong Kong: Tragedi 7 Gedung Terbakar di Wang Fuk Court

Sekilas Tragedi Kebakaran 7 Apartemen di Hong Kong

Pada 26 November 2025, Hong Kong dikejutkan oleh kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po, New Territories. Api yang awalnya muncul di area perancah luar gedung dengan cepat merambat dan akhirnya menghanguskan tujuh dari delapan menara apartemen bertingkat tinggi dalam kompleks tersebut.

kebakaran apartemen Hong Kong – Kompleks Wang Fuk Court sendiri merupakan perumahan subsidi pemerintah dengan delapan blok hunian sekitar 31–32 lantai, berisi hampir 2.000 unit apartemen dan lebih dari 4.600 penghuni, banyak di antaranya adalah lansia.

Hingga akhir November 2025, otoritas Hong Kong melaporkan bahwa sedikitnya 146 orang meninggal dan sekitar 79 orang terluka, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.Di antara korban, terdapat pekerja rumah tangga migran, termasuk dari Indonesia dan Filipina, yang menambah kedalaman luka bagi komunitas internasional di kota tersebut.

Kebakaran ini digolongkan sebagai kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1948, melampaui tragedi Garley Building tahun 1996 dan menjadi salah satu bencana kebakaran hunian tinggi paling buruk dalam sejarah kota itu.

Kronologi Kebakaran 7 Gedung Apartemen di Wang Fuk Court

Kondisi Sebelum Kebakaran

Sebelum kebakaran terjadi, seluruh blok di Wang Fuk Court sedang menjalani proyek renovasi besar pada dinding luar. Untuk mendukung pekerjaan ini, perancah bambu dipasang mengelilingi bangunan dari bawah hingga puncak, lalu dibungkus jaring hijau (construction safety net) dan terpal pelindung.

Sebagai tambahan, banyak jendela di area tertentu seperti ruang dekat lift ditutup dengan papan busa polistirena yang mudah terbakar sebagai isolasi sementara selama renovasi.

Warga dan perwakilan penghuni sebelumnya sudah menyuarakan kekhawatiran soal risiko kebakaran, termasuk soal bahan pelindung yang mudah terbakar, puntung rokok pekerja di area perancah, hingga laporan sistem alarm yang tidak berfungsi dengan baik. Namun, pihak berwenang sebelumnya menilai risiko “relatif rendah” selama pekerjaan panas seperti pengelasan dihindari.

Detik-Detik Awal Kebakaran (26 November 2025)

Sekitar pukul 14:00 waktu setempat, beberapa penghuni mencium bau asap dan melihat nyala kecil di area perancah luar salah satu blok (Wang Cheong House, Blok F). Api diduga pertama kali menyala di sudut perancah bambu yang dilapisi jaring dan terpal.

Pukul 14:51, layanan pemadam kebakaran menerima laporan resmi pertama mengenai kebakaran di Wang Fuk Court. Saat tim pemadam tiba sekitar 10 menit kemudian, api sudah menjalar naik di sepanjang perancah dan mulai menyerbu ke dalam unit apartemen, lalu melompat ke blok-blok lain melalui struktur luar yang saling terhubung.

Dalam hitungan jam, status kebakaran dinaikkan hingga alarm tingkat 5, level tertinggi untuk penanganan kebakaran di Hong Kong, menandakan insiden berskala sangat besar.

Malam Mencekam: Api Menggila di Tujuh Menara

Menjelang sore hingga malam, tujuh dari delapan menara di kompleks tersebut sudah dilalap api. Dari rekaman dan foto-foto di lokasi, tampak kolom-kolom api naik di sisi luar gedung, sementara jendela-jendela unit meledak dan mengeluarkan asap hitam pekat.

Ratusan penghuni terjebak di dalam unit masing-masing. Banyak yang mengaku tidak mendengar bunyi alarm kebakaran sehingga baru menyadari bahaya setelah melihat asap menembus pintu atau setelah dihubungi kerabat.

Hari Kedua: Api Masih Menyala, Pencarian Korban Dimulai

Memasuki 27 November, sebagian blok dinyatakan “di bawah kendali”, namun tiga gedung masih terbakar dan operasi pemadaman berlanjut.

Petugas memobilisasi:

  • Lebih dari 1.200–2.300 petugas pemadam secara bergantian

  • Ratusan kendaraan pemadam dan ambulans

  • Drone untuk memantau titik panas dan potensi nyala ulang.

Pada saat yang sama, operasi pencarian apartemen demi apartemen mulai dilakukan di blok-blok yang sudah dapat dimasuki. Banyak jenazah ditemukan di lorong tangga dan atap, menandakan korban berusaha kabur namun terjebak oleh asap dan api.

Api Padam Setelah 43 Jam

Baru pada 28 November sekitar pukul 10:18, otoritas menyatakan bahwa kebakaran di Wang Fuk Court “sebagian besar sudah padam”, setelah lebih dari 43 jam operasi pemadaman non-stop.

Total:

  • 7 dari 8 menara rusak berat oleh api

  • Lebih dari seribu warga dievakuasi ke pusat penampungan sementara, hostel, dan hotel

  • Ratusan keluarga kehilangan rumah sekaligus harta benda mereka.

Penyebab Kebakaran: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Secara resmi, penyebab awal kebakaran masih dalam penyelidikan. Pemerintah Hong Kong membentuk tim investigasi lintas lembaga yang melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, Kepolisian, Departemen Bangunan, Departemen Tenaga Kerja, hingga pakar rekayasa kebakaran.

Namun, dari laporan awal dan analisis para ahli, ada beberapa faktor kunci yang diduga kuat berperan:

1. Perancah Bambu dan Jaring Pelindung yang Mudah Terbakar

Seluruh menara dalam kondisi terbungkus perancah bambu dan jaring hijau serta lembaran plastik sebagai pelindung dari jatuhan puing. Meski secara teori jaring yang dipakai seharusnya memiliki karakteristik tahan api, dugaan penggunaan bahan yang tidak memenuhi standar mulai menguat.

Perancah bambu dan jaring yang menyelimuti gedung menciptakan:

  • “Terowongan vertikal” bagi api untuk menjalar naik

  • Permukaan luas tempat api dapat merambat secara horizontal dan menyeberang ke blok lain

Ahli keselamatan kebakaran membandingkan mekanisme penyebaran api di Wang Fuk Court dengan tragedi Grenfell Tower di London, di mana material di fasad luar berperan besar mempercepat penyebaran api.

2. Busa Polistirena di Jendela sebagai Akseleran

Banyak jendela ditutup dengan busa polistirena untuk melindungi kaca dari kerusakan selama renovasi. Bahan ini sangat mudah terbakar dan ketika terbakar, menghasilkan api cepat dan asap sangat tebal serta beracun.

3. Sistem Keselamatan Kebakaran yang Diduga Bermasalah

Catatan rapat pengelola dan komite penghuni menunjukkan adanya keluhan berulang soal peralatan pemadam dan alarm: nozzle, hose reel, hingga alarm yang sudah tua atau tidak berfungsi.

Sejumlah saksi menyatakan tidak ada alarm berbunyi di delapan menara selama kebakaran, dan sebagian pekerja bahkan mengklaim sistem pernah dimatikan agar akses keluar-masuk pekerja lebih mudah.

Jika terbukti, kombinasi fasad yang mudah terbakar dan sistem proteksi kebakaran yang tidak berfungsi adalah faktor risiko yang sangat fatal.

Dampak Sosial dan Kemanusiaan

Tragedi kebakaran 7 gedung apartemen di Hong Kong ini bukan hanya soal angka korban jiwa.

Beberapa dampak yang sangat terasa:

  • Korban jiwa besar dan lintas negara
    146 korban meninggal termasuk lansia, keluarga muda, anak-anak, pekerja konstruksi, dan pekerja rumah tangga migran dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Filipina.

  • Ribuan orang kehilangan rumah
    Lebih dari 1.700 penghuni harus dipindahkan ke perumahan sementara, hostel pemuda, dan hotel. Pemerintah menawarkan bantuan dana darurat dan layanan untuk mengganti dokumen penting seperti KTP, paspor, dan akta pernikahan.

  • Gelombang duka publik dan kemarahan
    Ribuan warga Hong Kong datang ke lokasi untuk menaruh bunga, menulis pesan duka, dan mengikuti doa bersama. Di saat yang sama, muncul petisi menuntut investigasi independen, transparansi standar konstruksi, serta akuntabilitas pemerintah dan kontraktor.

  • Dimensi politik dan keamanan nasional
    Beberapa aktivis dan penggagas petisi dilaporkan ditahan dengan tuduhan “hasutan” ketika menyerukan investigasi yang lebih independen, sementara otoritas pusat memperingatkan agar tragedi ini tidak dijadikan momentum protes politik besar-besaran.

Pelajaran dan Langkah Pencegahan: Agar Kebakaran Serupa Tidak Terulang

Dari perspektif keselamatan kerja, konstruksi, maupun manajemen hunian, tragedi ini menyajikan banyak pelajaran penting.

1. Penguatan Regulasi untuk Gedung Tinggi yang Sedang Renovasi

Beberapa langkah yang sangat krusial:

  • Standardisasi material fasad dan pelindung perancah
    Pemerintah perlu benar-benar melarang penggunaan jaring, terpal, dan foam yang mudah terbakar pada proyek renovasi gedung tinggi dan memastikan hanya bahan berstandar tahan api yang boleh digunakan.

  • Audit independen proyek renovasi besar
    Proyek berskala ratusan juta dolar Hong Kong, seperti renovasi Wang Fuk Court, seharusnya wajib diaudit pihak independen untuk memastikan pemenuhan standar keselamatan, bukan hanya mengandalkan dokumen dari kontraktor.

  • Penegakan hukum dan sanksi tegas
    Jika terbukti ada kelalaian berat, penggunaan material di bawah standar, atau manipulasi dokumen, sanksi terhadap perusahaan dan penanggung jawab harus cukup berat agar menimbulkan efek jera.

2. Desain dan Operasional Sistem Proteksi Kebakaran

Kebakaran ini juga menunjukkan betapa pentingnya sistem proteksi aktif di gedung tinggi:

  • Alarm dan sprinkler tidak boleh dinonaktifkan saat renovasi
    Jika perlu dimatikan sementara di area kecil, harus ada kompensasi berupa patroli kebakaran, detektor portabel, dan prosedur ketat lainnya.

  • Perawatan rutin peralatan kebakaran
    Hose reel, hydrant, alarm bell, hingga pencahayaan darurat wajib diperiksa berkala. Setiap temuan kerusakan harus punya tenggat perbaikan yang jelas dan dilaporkan ke otoritas.

  • Perencanaan jalur evakuasi selama renovasi
    Proyek renovasi sering menutup sebagian koridor atau tangga. Ini harus dihitung dari awal sehingga minimal ada dua jalur evakuasi aman untuk setiap lantai, meski ada proyek berjalan.

3. Keterlibatan Aktif Penghuni

Penghuni gedung juga punya peran penting untuk meminimalkan risiko:

Hal-hal yang bisa dilakukan penghuni apartemen:

  1. Kenali jalur evakuasi terdekat

    • Cek tangga darurat, pintu keluar, dan lokasi alat pemadam portabel.

    • Latih diri dan keluarga, terutama lansia dan anak-anak, untuk tahu rute mana yang digunakan jika terjadi kebakaran.

  2. Waspada tanda bahaya

    • Jika melihat bahan renovasi tampak mudah terbakar, pekerja merokok di area perancah, atau alarm tidak berfungsi, catat dan laporkan ke pengelola dan otoritas terkait.

  3. Paham prosedur “shelter in place”
    Dalam kebakaran gedung tinggi, kadang lebih aman tetap di unit daripada memaksa turun melalui tangga penuh asap. Penghuni perlu tahu cara:

    • Menutup celah pintu dan jendela dengan kain basah

    • Mematikan AC yang mengambil udara dari luar

    • Mengirim lokasi ke petugas dengan jelas bila terjebak.

  4. Tidak menumpuk barang di lorong
    Lorong dan tangga harus bebas dari barang-barang yang mudah terbakar dan bisa menghambat evakuasi.

4. Tanggung Jawab Pengelola dan Pemilik Gedung

Pengelola gedung (estate management / building management) memegang peran sentral:

  • Transparansi ke penghuni
    Setiap temuan terkait kerusakan alat kebakaran, temuan inspeksi, atau rencana renovasi besar harus dipaparkan ke komite penghuni.

  • Dokumentasi dan tindak lanjut keluhan
    Keluhan soal pekerja merokok, penggunaan material mencurigakan, atau matinya alarm tidak boleh diabaikan. Semua harus terdokumentasi, diberi nomor laporan, dan ada update progres.

  • Pelatihan rutin penghuni dan staf
    Minimal setahun sekali, dilakukan simulasi evakuasi kebakaran dan edukasi singkat tentang penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan prosedur darurat.

Penutup

Kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court bukan sekadar berita internasional sesaat. Ini adalah pengingat keras bahwa:

  • Kompromi kecil terhadap keselamatan (menggunakan bahan lebih murah, menunda perbaikan alarm, mematikan sistem proteksi) bisa berujung pada korban dalam jumlah besar.

  • Dalam lingkungan hunian padat seperti Hong Kong atau kota-kota besar lain di Asia standar keselamatan gedung tinggi bukan pilihan, tapi keharusan.

Bagi kita di Indonesia, apalagi yang tinggal di apartemen, kos bertingkat, atau gedung perkantoran tinggi, tragedi 7 gedung yang terbakar di Hong Kong ini bisa dijadikan studi kasus nyata.